Wali Kota Edi Rusdi Kamtono Buka Eksibisi Meriam Karbit, Dentuman Tradisi Menggema di Pontianak

Satukalbar.Com
Pontianak, Jumat (20 Maret 2026)
Wali Kota Edi Rusdi Kamtono menghadiri sekaligus membuka eksibisi meriam karbit di Gang Darsyad, Kelurahan Bangka Belitung Laut, Kecamatan Pontianak Tenggara.

Pembukaan acara ditandai dengan dentuman meriam karbit yang dibunyikan langsung oleh wali kota, disusul suara meriam lainnya yang telah terpasang di lokasi.

Edi Kamtono menyampaikan apresiasi terhadap penyelenggaraan tradisi tahunan tersebut. “Ini sebagai simbol kebersamaan warga Pontianak,” ujarnya.

Suara meriam yang saling bersahutan pun menggema, disambut antusiasme masyarakat yang memadati area acara.

Tradisi meriam karbit telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Pontianak. Bahkan, pada tahun 2016, tradisi ini ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Pemerintah Kota Pontianak terus berupaya menjaga dan melestarikan tradisi ini sebagai ikon budaya daerah.

Lebih dari sekadar hiburan, meriam karbit mengandung filosofi kebersamaan dan gotong royong. Proses pembuatannya melibatkan kerja kolektif masyarakat, mulai dari merakit, merawat, hingga membunyikannya bersama-sama.

“Di dalamnya ada nilai silaturahmi dan kebersamaan. Walaupun ada unsur persaingan antar kelompok, namun tetap dalam semangat kekerabatan,” jelas Edi.

Tahun ini, sebanyak 229 meriam karbit turut ambil bagian, dengan ukuran yang bervariasi. Beberapa di antaranya memiliki diameter lebih dari 80 sentimeter dan terbuat dari kayu gelondongan yang disimpan dalam air untuk menjaga kualitasnya.

Tradisi ini berkembang di sepanjang Sungai Kapuas dan diwariskan secara turun-temurun. Dentuman meriam karbit telah lama menjadi penanda datangnya 1 Syawal sekaligus memperkuat identitas budaya Kota Pontianak.

Bagi masyarakat setempat, perayaan Idulfitri terasa belum lengkap tanpa suara khas meriam karbit.

Ke depan, Pemerintah Kota Pontianak berharap tradisi ini tidak hanya lestari, tetapi juga mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat. Dengan pengemasan yang lebih menarik, meriam karbit diharapkan menjadi destinasi wisata unggulan.

“Setiap tahun kita lakukan evaluasi agar kegiatan ini semakin baik dan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat,” tambahnya.

Kemeriahan acara juga menarik perhatian pengunjung dari luar daerah, salah satunya konten kreator asal Tanjung Pinang, Bedah.

Ia mengaku terkesan dengan tradisi tersebut.
“Ini pengalaman pertama saya melihat langsung meriam karbit di Pontianak. Suasananya luar biasa, bukan hanya dentumannya yang khas, tetapi juga kebersamaan masyarakatnya,” ungkapnya.

Bedah menilai tradisi ini memiliki potensi besar sebagai daya tarik wisata nasional hingga internasional jika dipromosikan secara lebih luas melalui media digital.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pontianak, Sri Sujiarti, menjelaskan bahwa eksibisi tahun ini tersebar di 42 titik lokasi dengan total 229 meriam karbit.

Selain dipusatkan di Gang Darsyad, kegiatan juga berlangsung di tepian Sungai Kapuas di wilayah Pontianak Selatan, Tenggara, dan Timur.

“Untuk lokasi eksibisi tersebar di 42 titik di sepanjang tepian Sungai Kapuas,” ujarnya.**/

Ramsyah)red

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *